Akselarasi PembangunanKepariwisataan Dalam Rangka Pencapaian Target 12Juta Wisman dan 260 JutaWisnus Tahun 2016

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata dalam rangka percepatan pembangunan kepariwisataan untuk mewujudkantercapainya target 2016 hingga 2019. Rakornas yang dibuka sekaligus sebagai keynote speecholeh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya tersebut berlangsung di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (26/1).

Menpar Arief Yahya mengatakan, Presiden Joko Widodo menetapkan tahun 2016 sebagai tahun percepatan akselerasi dalam rangka mewujudkan pencapaian target pembangunan di masing-masing sektor. “Percepatan akselerasi sektor pariwisata harus dilakukan mengingat target lima tahun ke depan (2019) besarannya dua kali lipat atau 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) dibandingkan tahun 2015 sebanyak 10 juta wisman,” kata Menpar Arief Yahya.

Sektor pariwisata tahun 2019 harus dapat memberikan kontribusi pada PDB Nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan sebesar Rp 240 triliun, menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta wisman dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.

Target pariwisata tahun 2016 ditetapkan; jumlah kunjungan wisman sebesar 12 juta dengan devisa yang dihasilkan diproyeksikan sebesar Rp 172 triliun; jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 260 juta perjalan dengan uang yang dibelanjakan sebesar Rp 223,6 triliun; kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional akan meningkat menjadi 5%; dan jumlah lapangann kerja yang diciptakan menjadi 11,7 juta tenaga kerja.

Mempar Arief Yahya menjelaskan, target pertumbuhan pariwisata tahun ini sebesar 20% berarti empat kali lipat dari pertumbuhan perekonomian nasional sehingga percepatan akselerasi harus dilakukan dengan pendekatan great spirit, grand strategi yakni bagaimana mendapatkan hasil yang luar biasa dengan cara yang tidak biasa. “Kita harus bangun spiritbahwa pariwisata Indonesia bisa mengalahkan pariwisata Malaysia dan Thailand. Pariwisata harus menjadi penghasil devisa utama bagi bangsa Indonesia,” kata Arief Yahya.

Selama lima tahun terakhir ini Indonesia belum mampu mengejar tiga negara pesaing yakni; Malaysia, Thailand, dan Singapura. Tahun 2011 jumlah kunjungan wisman ke Indonesia 7,6 juta, sedangkan Malaysia meraih 24,7 juta wisman, Thailand 19,2 juta wisman, dan Singapura 13,1 juta wisman. Tahun 2015, wisman ke Indonesia baru 10 juta, sedangkan ke Malaysia 29,2 juta, Thailand 29,7 juta, dan Singapura 16,1 juta.

Trobosan Regulasi

Menpar Arief Yahya menjelaskan lebih jauh, salah satu langkah percepatan akselerasi bidang pariwisata adalah dalam pengembangan 10 destinasi wisata prioritas dengan mengggunakan pendekatan konsep single destination single management. “Dalam waktu dekat ini akan lahir Badan Otorita Toba, kemudian diikuti Badan Otorita Borobudur bisa mencakup Sangiran, Karimun Jawa, Dieng dan Joglo Semar. Dalam struktur badan tersebut sebagai Dewan Pengarah Menko Maritim, Ketua Harian Menpar dengan anggota menteri-menteri terkait termasuk Menpan, “ kata Arief Yahya.

Pembentukan Badan Otoritas tersebut sebagai trobosan regulasi dalam mempercepat kenaikan kunjungan wisman, karena dari pengalaman selama ini sistem pengelolaan single destinationdengan multy management menjadi penghambat terhadap peningkatan wisman ke obyek wisata. Menteri memberi contoh perbandingan (benchmarking) Kamboja memilikidestinasi culture Angkor Wat (world heritage sites) dikunjungi 1,7 juta, sementara Indonesia memiliki dan detinasi Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (world heritage sites) dikunjungi sebanyak 471 ribu wisman dan 5 juta wisnus.Rendahnya tingkat kunjungan wisman ke Borobudur karena destinasi tersebut dikelelola oleh banyak otoritas (single destinationdengan multy management).

Terobosan regulasi yang dilakukan pemerintah adalah memperbanyak pemberian Bebas Visa Kunjungan (BVS) yang saat ini sebanyak 90 negara (Perpres No.104 Tahun 2015) tahun ini direncanakan akan ditambah menjadi 174 negara. Dengan kebijakan BVK ini diproyeksikan tahun ini akan meningkatkan 1 juta wisman dengan devisa sebesar US$ 1 milyar.

Deregulasi pariwisata dengan menghapus Clearance Approval for Indonesia Teritory (CAIT/Perpres 105 Tahun 2015) akan meningkatkan jumlah kunjungan perahu pesiar (yacht) ke Indonesia. Diproyeksikan dalam lima tahun ke depan jumlah kunjungan yacht akan mencapai5.000 perahu pesiar dengan perolehan devisa sebesar US$ 500 juta. Sementara itu deregulasi terhadap asas cabotage untuk cruiseatau kapal pesiar asing, dengan membolehkan penumpangg naik turun di lima pelabuhan di Indonesia yaitu; Belawan, (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Benoa (Bali) danSoekarno – Hatta (Makassar), akanmendorong naiknya kunjungan wisman kapal pesiar ke Indonesiayang diproyeksikan tahun 2019 jumlah kunjungan cruise asing ke Indonesia mencapai 1.000 kapal pesiar dengan perolehan devisa mencapai US$ 300 juta.(*)