Festival Budaya Tua Buton Cermin Budaya Indonesia

Pagelaran festival Budaya Tua Buton yang digelar pada pekan lalu, di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara sukses besar hadirkan pengunjung wisatawan nusantara. Pengunjung tumplak ruah menyaksikan dan melaksanakan ritual Sulawesi Tenggara  mulai dari upacara tandaki (sunatan massal), pidole-pidole (imunisasi tradisonal), makan bersama atau kande-kandea, hingga tarian kolosal 10.000 pelajar.

Acara dimulai dengan sunatan tradisional bernama Tandaki. Sunatan ini sudah dilakukan ribuan tahun silam bahkan sebelum Islam masuk ke Buton. Di zaman dulu pakai bambu, tapi kini sudah memakai tenaga medis.

Selanjutnya pidole-pidole salah satu budaya leluhur yang masih dipraktekkan.
Itu adalah tradisi semacam imunisasi yang dilakukan pada anak-anak untuk memberikan kekebalan tubuh dari penyakit, namun dengan cara adat yang telah dilakukan nenek moyang Buton ratusan rahun lalu. Ritual adat ini semacam imunisasi tapi dengan cara yang berbeda dengan cara sekarang, karena dilakukan dengan diminyaki lalu diberi mantra-mantra.

IMG_20160824_112710

Berbarengan dengan acara tandaku, pidole-pidole selanjutnya dilakukan acara kande-kandea yaitu menggunakana talang sebanyak 2000.

“Tahun ini, ritual Pekande-kandea saja menyediakan 2.000 talang yang berisi aneka makanan dan penganan khas Buton,” papar Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun, di Takawa, Kab Buton, Sulawesi Tenggara.

Ritual ini telah dilaksanakan dari sejak jaman nenek moyang kita. Festival tersebut menggelar acara Pikande-kandea makan bersama yang disajikan dalam nampan besar (talang) dengan berkaki kuningan yang menyajikan masakan khas buton seperti baruasa ketan, ikan, onde-onde, lapa-lapa, kasuami,antona tala.

IMG_20160824_103523

Pikande-kandea sebenarnya bisa juga dijadikan ajang mencari jodoh. Karena para pembawa talang tersebut disajikan oleh para gadis. Dan makanan tersebut disajikan kepada para kaum lelaki. Setelah menyantao makanan sang lelaki memberikan saweran kepada si gadis tersebut.

Kemudian puncak acara festival tersebut ditutup dengan tarian kolosal sebanyak 10000 pelajar. Ada 3 tarian yang ditampilkan, yaitu Lumense, Potimbe dan Ponare. Tiap tarian punya makna, gerakan dan kostum yang berbeda-beda. Satu tarian bisa dilakukan ratusan orang.

tari

Paling menarik adalah tari Lumense. Tarian ini bermakna pengusiran mahluk halus yang dilakukan dengan menebas pohon pisang. Tari Potimbe pun seru dilihat, karena inilah tarian perang dengan pedang dan tombak yang besar-besar.

“Festival Budaya Buton ini bertujuan untuk mengajarkan generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya leluhur Buton, dalam rangka membentuk karakter dan jiwa anak-anak yang lebih baik,” ujar Bupati Umar.

Hadir pada acara tersebut Sekretaris Jenderal Kementrerian Pariwisata Ukus Kuswara yang sang terpesona dengan festival tersebut. “Setelah melihat semangat dan kegembiraan anak-anak saat menarikan tarian dan budaya tradisional mereka, saya kira Bupati Buton sudah cukup berhasil membangun kebanggaan pada budaya mereka sendiri. Festival ini sangat menarik, bikin saya merinding,” kata Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara.

IMG_20160824_151213

Jika pemerintah terkait mau bersinergi untuk membenahi lagi potensi ekonomi pariwisata di Kabupaten Buton, menurut Ukus, acara seperti itu akan menarik banyak turis datang.

Ini akan berimplikasi pada peningkatan kunjungan wisatawan per tahun yang pada 2015 menarik 190 wisatawan mancanegara dan sekitar 2000 wisatawan nasional.
Festival Budaya Tua Buton 2016 mengangkat tema “Melestarikan Budaya Masa Lampau, Membangun Masa Depan”. Dalam festival yang telah digelar kali keempat sejak 2013 tersebut melibatkan puluhan ribu anggota masyarakat berbagai usia.

Tahun ini, Festival Budaya Tua Buton lolos menjadi salah satu dari tiga agenda pariwisata yang diusulkan ke Kementerian Pariwisata oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Sultra.
Sampai jumpa di Festival Budaya Tua Buton tahun depan!.(*)