Industri MICE Joglosemar Makin Menggeliat Optimis

Kawasan DIY-Jateng yang dikenal dengan Joglosemar, dengan segitiga emas Jogja Solo Semarang memang paling beruntung. Punya heritage building, Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Dieng, Kedung Songo, dan lebih dari 100 candi di sana. Punya keraton, pusat kebudayaan yang sampai sekarang masih hidup.

Punya wisata gunung, dengan ketinggian rata-rata di atas 1.500 meter dpl (dari permukaan laut). Ada Gunung Slamet (3.428 m), Gunung Sumbing (3.371 m), Gunung Sindoro (3.150 m), Merbabu (3.142 m), Merapi (2.914 m), Gunung Prau (2.565 m), Rogojembangan (2.177 m), Gunung Ungaran (2.050 m), Gunung Muria (1.602 m).

Juga punya wisata bahari, sepanjang Pantai Selatan di Gunung Kidul, Bantul dan Kulonprogo, dan punya Kepulauan Karimunjawa, 3,5 jam menyeberang kapal dari Jepara. Juga punya peninggalan prasejarah, di Sangiran.

“Alam dan budayanya komplit. Ditambah dengan manmade atau buatan manusianya juga sedang berkembang pesat. Salah satunya MICE, Meetings, Incentives, Conferences,  Exhibitions yang di tiga kota itu sudah memenuhi syarat. Jogja Solo Semarang,” sebut Menpar Arief Yahya.

Seperti Konferensi Internasional Pangajaran Bahasa Inggris Asia TEFL (Teaching English as a Foreign Language) ke-15 dan TEFLIN (The Association for the Teaching of English as a Foreign Language in Indonesia) ke-64 di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, Kamis (13/7).

Perhelatan tersebut membuat kota Yogyakarta semakin menggeliat di MICE. “Kementerian Pariwisata tepat mengambil momentum ini dan menebarkan brandingnya di acara seperti ini yang diikuti 1431 peserta, terdiri dari 981 orang dari dalam negeri dan 437 peserta dari luar negeri. Jogja makin berkembang industri MICE-nya,” kata Ketua Penyelenggara Suwarsih Madya.
 

Suwarsih Madya mengatakan, seperti diketahui, yang bertindak sebagai tuan rumah tahun ini adalah  Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain di Hotel Ambarukmo, acara juga dilakukan di Hotel East Park. Konferensi didahului dengan dua kegiatan workshop yang masing-masing diselenggarakan di Pusat Layanan Akademik (PLA) lantai 3 dan di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY.

Konperensi Internasional Pengajaran Bahasa Inggris tahun ini mengambil mengangkat temaTeaching English in the Digital Era in Asia: Global Citizenship and Identities.
 
”Konferensi ini adalah untuk menyediakan forum bagi EFL pembelajaran peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk berkumpul dalam satu media untuk belajar dan tumbuh bersama, dan jangan lupa, kegiatan MICE harus juga kita sertakan dengan bertamasya ke destinasi-destinasi yang ada di kota tempat diselenggarakan event tersebut,” ujarnya.
 

Dalam acara tersebut, hadir Menteri Riset dan Dikti Prof Mohammad Nasir, menjadi pembicara kunci. Adapun pembicara dalam diskusi panel yakni Anita Lie (Indonesia), Anthony J Liddicoat (Inggris), Deborah Heale y (USA), Diane Teddick (Amerika Serikat), Guangwei Hu (Singapura), Herbert Puchta (Austria), Paul Nation (New Zealand), Roslyn Appleby (Australia), Nicky Salomo (Selandia Baru) danYueguo Gu (Tiongkok).
 
Dan sebagai speaker pleno tersebut adalah 9 pembicara, yaitu Pupung Purnawan (Indonesia), Indonesia), Mohd. ShukriNordin (Malaysia), Hsin-chou Huang (Taiwan), Xuesong/ Andy Gao (Hongkong), Valdez Paolo Nino (Filipina), Harunur Rashid Khan (Bangladesh), William kecil (RELO, Jakarta, Indonesia) ,Santi B. Lestari (Indonesia), dan Christine Coombe (UEA). Sedangkan pembicara dari afliasi TEFLIN sendiri adalah Lee Young Sun (ALAK), Kyeong-Ouk Jeong (KATE), Roby Marlina (RELC), Richmond Stroupe (JALT), Aslam Khan Bin Samahs Khan (MELTA) dan Harun Kelly (Cam TESOL).
 
Terdapat empat sub topik pembahasan dalam konferensi ini yaitu presentasi makalah, kolokium, poster, dan diskusi panel, peserta dijadwalkan mengikuti dan pertemuan anggota board TEFLIN serta ‘city tour’ setengah hari di Kota Yogyakarta.

“Konferensi yang merupakan MICE tourism ini memberikan opportunity bagi para pengajar bahasa Inggris di wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta berupa peningkatan mengajar bahasa Inggris, juga memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata di daerah Istimewa ini,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti yang juga diamini Kepala Bidang Promosi Wisata Pertemuan dan Konvensi Asdep Bisnis dan Pemerintah Kemenpar Eddy Susilo.
 
Esthy menekankan bahwa Konferensi Internasional  itu juga bagian dari pariwisata. Di luar negeri sendiri, MICE itu sudah jadi bagian dari pariwisata dan turis MICE harus diperhitungkan sebagai wisatawan mancanegara. 

“Peserta yang datang untuk acara MICE ini juga berwisata, setelah ikut konferensi, biasanya mereka juga akan wisata, ikut paket paket wisata yang ditawarkan panitia penyelenggara atau jalan sendiri atau berkelompok. Ini bagus untuk perkenalan pariwisata Yogyakarta, MICE tourism itu bagus sekali untuk peningkatan wisata. Karena jumlah uang yang akan masuk sudah jelas. Jumlah orangnya juga sudah jelas, sudah bisa terhitung,” katanya. 


 
Menpar Arief Yahya sendiri juga membidik sektor MICE lebih serius. “MICE itu menyumbang 20 persen pendapatan di sektor wisata. Sisanya masih dari traveling, jadi harus digarap lebih serius” kata Arief Yahya.

Pria asli Banyuwangi itu mengungkapkan bahwa penggarapan yang serius ini melibatkan 16 destinasi garapan MICE. Selain DIY Yogyajarta,  Destinasi MICE ini meliputi daerah-daerah antara lain Batam, Palembang, Jakarta, Bandung,  Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Padang, Lombok, Makasar, Manado, Balikpapan, dan Medan. Ditambahkan dia, meski tak sesiap, dalam artian belum ada gedung konvensi yang bisa memuat ribuan orang dan lainnya, ini bukan berarti kota lainnya tak bisa digunakan untuk MICE.(*)