Mencapai Target Kunjungan Wisman 21 Juta

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merancang strategi untuk mewujudkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata kelas dunia (world class destination).

Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar Prof. Dr. H.M. Ahman Sya pada acara workshop kepariwisataan dengan mengangkat tema “Gong 21: Menggapai Pariwisata Kelas DuniaWonderful Indonesia Goes World Class” di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, belum lama ini, mengatakan pemahaman terhadap strategi dalam menggapai destinasi kelas dunia (world classdestination) bisa dilakukan dengan berbagai cara.

“Cara yang bisa dilakukan antara lain dengan melakukan revitalisasi keanekaragaman destinasi wisata daerah maupun memposisikan branding, advertising dan selling sebagai strategic weapon pemasaran pariwisata Indonesia,” katanya.

Menurut Ahman Sya, penguatan pemahaman, kesamaan pandang dan wawasan sangat diperlukan dalam pembangunan kepariwisataan Indonesia yang terpadu dan berkelanjutan.

“Melalui kegiatan workshop ini diharapkan akan diperoleh masukan dari para stakeholder terkait seputar isu strategis bagaimana kesiapan destinasi, aksesibilitas (konektivitas), dan pemasaran pariwisata Indonesia menjadi kelas dunia yang berlandaskan pada prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan,” kata Ahman Sya.

Workshop yang menampilkan sejumlah pembicara dari kalangan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, dan praktisi maupun komunitas pariwisata (Penta Helix) tersebut membahas sejumlah masalah bagaimana upaya meraih pasar wisatawan dari pergerakan manusia skala internasional (dunia) maupun nusantara dengan memperhatikan pola pergerakan sebagai dasar dalam menentukan pangsa pasar dan segmentasi pasar.

“Bagaimana kesiapan Indonesia terkait pemahaman konsep, kebijakan, kelembagaan dan sistem penyelenggaraan pariwisata sebagai produk layanan mulai dari hulu hingga hilir agar mampu menjadi destinasi pariwisata kelas dunia yang berkelanjutan,” katanya.

Selain itu juga untuk memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi kelas dunia melalui strategi pemasaran yang tepat dan terarah dengan memanfaatkan berbagai macam media komunikasi.

Pemahaman tentang definisi, terminologi dan konsep terkait trend dan paradigma pariwisata berkelanjutan juga dibahas dalam workshop tersebut.

“Bagaimana potensi atraksi dan daya tarik yang dimiliki, pengintegrasian data dan informasi pangsa pasar wisatawan dan pangsa pasar wisata yang dibutuhkan dalam rangka perencanaan, pendesainan, pelaksanaan dan pemantauan program pengembangan pariwisata di Indonesia secara terpadu dan berkelanjutan juga disampaikan dalam acara tersebut,” katanya.

Pihaknya menggelar workshop tersebut dalam rangka memberikan pengetahuan, pemahaman, dan wawasan bidang pariwisata kepada para peserta di antaranya bagaimana upaya meraih target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan perjalanan 275 juta wisatawan nusantara (wisnus) dalam lima tahun ke depan atau akhir 2019.

Pemerintah telah menjadikan pariwisata sebagai leading sector pembangunan perekonomian nasional dengan menempatkan sebagai sektor penghasil devisa terbesar, memberikan kontribusi terhadap PDB nasional yang tinggi, serta menciptakan lapangan kerja yang luas.

Pertumbuhan pariwisata dalam lima tahun ke depan diproyeksikan mencapai dua kali lipat atau sesuai target yang ditetapkan yakni perolehan devisa akan mencapai Rp280 triliun, kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 8 persen, serta menciptakan 13 juta orang lapangan kerja.

Jumlah kunjungan wisman akan menjadi 20 juta, pergerakan wisnus sebanyak 275 juta, serta daya saing pariwisata Indonesia akan berada di ranking 30 dunia.

Sementara itu untuk mendukung pertumbuhan pariwisata, pemerintah telah menetapkan prioritas pembangunan 10 destinasi di kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) yakni; Borobudur (Jateng), Mandalika (Lombok NTB), Labuhan Bajo (NTT), Bromo-Tengger Semeru (Jatim), Kepalaun Seribu (DKI Jakarta), Toba (Sumut), Wakatobi (Sulteng), Tanjung Lesung (Banten), Morotai (Malut), dan Tanjung Kelayang (Babel).

Workshop diikuti sekitar 300 peserta dari kalangan pelaku bisnis, akademisi, Pemda, masyarakat, komunitas, media, serta Kemenpar dan instansi terkait dengan menampilkan sejumlah pembicara yang terbagi dalam dua sub-tema.

Sub-tema pertama, Peluang Pasar Wisatawan Dunia dan Nusantara (meliputi direct-indirect travel, free visa, etc) dengan pembicara Poernomo Siswoprasetjo, MBA (CEO PATA Indonesia Chapter).

Infrastruktur dan Konektivitas (Load Factor/Kapasitas Bandara, Open Sky Policy) pembicara M. Asrori (Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis PT Angkasa Pura I).(*)