Menteri Pariwisata Arief Yahya

Arief Yahya, nama yang sudah tidak asing lagi muncul di Media belakangan ini. Nama tersebut semakin dikenal saat Arief Yahya didaulat oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dalam Kabinet Kerja Jokowi – JK periode 2014 – 2019 di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Minggu (26/10/2014).

Yoyok begitu biasa disapa oleh keluarga dan kerabatnya semasa kecil adalah putra asli Banyuwangi yang lahir pada 2 April 1961. Yoyok dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan ayah, H. Said Suhadi yang berprofesi sebagai pedagang dan ibu, Hj Siti Badriya yang aktif dalam organisasi keagamaan. Arief mengambil teladan dari kedua orang tuanya, terutama dari sang ibu. Dimasa-masa sulit, Ibunya selalu menunjukkan perjuangan tanpa henti dan ketekunan kepada anak-anaknya.

Berbekal ketekunan yang selalu diajarkan oleh sang Ibu, Arief Yahya berhasil lulus sebagai sarjana Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung di tahun 1986 dengan nilai yang memuaskan. Selepas lulus dari universitas negeri bergengsi ini, Arief Yahya memulai karirnya di PT. Telkom Tbk. dan berhasil menjadi salah satu karyawan Telkom yang terpilih mengikuti program Master Telematika di Surrey University, Inggris tahun 1994. Tidak berpuas diri, pengarang buku Great Spirit Grand Strategy ini kemudian mengambil gelar doktor dalam Ilmu Ekonomi Kekhususan Manajemen Bisnis dengan predikat cumlaude dari Universitas Padjadjaran pada Juni 2014.

Sejak 1986, Arief Yahya telah bergabung dengan PT. Telkom Tbk, yang sudah membesarkan namanya. Perlahan namun pasti karirnya menanjak sebagai Senior Manager Niaga Divisi Regional II (1999 – 2001), General Manager Kandatel Jakarta Barat (2002 – 2003), Kepala Divisi Regional VI Kalimantan (2003 – 2004), dan Kepala Divisi Regional V Jawa Timur (2004 – 2005). Kemudian beliau menjadi Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia semenjak tahun 2005-2012.

Tujuh tahun menjabat sebagai Direktur Enterprise dan Wholesale, Arief Yahya menyabet beberapa penghargaan, antara lain Satyalencana Pembangunan 2006 atas keberhasilan dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur dari Presiden RI. Di tahun yang sama, Arief masuk dalam daftar ”25 Business Future Leader” versi majalah Swa dan masih segudang lagi prestasi dan penghargaan yang diraih Arief Yahya.

Berbagai penghargaan tersebut akhirnya membawa –AY–sapaan di kantor– mencapai karir puncaknya di Telkom. Arief Yahya ditunjuk menjadi CEO PT Telekomunikasi Indonesia periode 2012 – 2017 yang resmi diembannya pada 11 Mei 2012. Dan di tahun yang sama, beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama Telkomsel, salah satu anak perusahaan Telkom dan merupakan operator seluler terbesar di Indonesia. Kepiawaan Arief Yahya dalam memimpin Telkom memang tidak diragukan lagi. Baru saja 1,5 tahun memimpin, Arief Yahya berhasil membawa harga saham meningkat lebih dari 50%. Selain itu, ia pun terus menambah koleksi penghargaannya. Arief terpilih sebagai penerima Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, penerima Anugerah Business Review 2012 dari majalah Business Review. The Best CEO pada Anugerah BUMN 2012; The Best CEO Commitment on Human Capital – FHCI 2013; The Best CEO Finance Asia Award 2013; serta membawa Telkom sebagai Best of The Best Service Provider of The Year pada Frost & Sullivan ICT Asia Pacific Award 2013; The Best BUMN on Marketing pada BUMN Marketing Award 2013; penghargaan tertinggi pada ajang BUMN Innovation Award 2013; dan The Best Managed Company dari Finance Asia Award 2013.

Selain aktivitas sebagai Menteri Pariwisata, Arief Yahya juga aktif diberbagai organisasi, diantaranya menjadi alternate member dari APEC Business Advisory Council sejak tahun 2012 dan menjadi Kepala Ikatan Alumni Elektro (IAE) ITB dari tahun 2009 – 2013.

Peraih Anugerah Marketer of The Year 2013 ini, sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam bidang marketing. AY merupakan sosok yang selalu antusias, positive thinking, berkeyakinan tinggi, serta memiliki tujuan yang jelas sesuai target. Karena itulah Presiden RI Jokowi memintanya untuk bisa mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 mendatang. Dengan penuh kesiapan dan keyakinan Arief Yahya menerima amanah yang cukup berat tersebut. Bagaimana tidak, agar dapat mencapai target 20 juta wisman, berarti Kemenpar harus mampu menaikkan kunjungan wisman hingga 2 kali lipat mengingat di tahun 2014 kunjungan wisman baru mencapai angka 9.4 juta.

Pria yang memiliki slogan “Success without plan is luck. Success with plan is achievement!” ini, memulai gebrakannya sebagai Menteri Pariwisata dengan berbagai konsep dan strategi yang matang. Untuk itu dalam tempo kurang dari setahun sejumlah langkah strategis sudah ia lakukan agar wisatawan mancanegara beramai-ramai datang ke Indonesia, diantaranya dengan sigap dan tanggap melakukan koordinasi dengan kementerian lain khususnya Kementerian Hukum dan HAM dalam upaya meloloskan proposal bebas visa untuk 45 negara. Ia juga intens membangun komunikasi dan koordinasi percepatan proyek jalan tol langsung Jakarta-Tanjung Lesung dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Mengingat Tanjung Lesung adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pariwisata.

Berbagai macam strategi dan terobosan yang telah dilakukan pun menghasilkan sederetan kemajuan performa kepariwisataan Indonesia. Jika mengacu pada standar global seperti Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) yang biasa digunakan di world economic forum, Indonesia kini memiliki sejumlah keunggulan antara lain di pilar price competitiveness, prioritization of travel and tourism, dan pilar natural resources. Kemudian Keputusan Presiden Jokowi yang menetapkan pariwisata sebagai sektor andalan (leading sector) tentu saja merupakan kabar gembira juga bagi industri kepariwisataan nasional. Hal tersebut diperkuat oleh persetujuan pemerintah untuk mengucurkan dana Rp.1,3 triliun rupiah untuk promosi, meningkat sebesar 4 kali lipat dimana sebelumnya hanya 300 miliar rupiah, namun oleh Presiden Jokowi ditambah 1 triliun menjadi 1,3 triliun khusus untuk promosi pariwisata.

Pencapaian lain yang tak kalah strategis adalah penerapan strategi fokus pasar, fokus destinasi dan media melalui sejumlah konsep. Di sisi lain, ada tren meningkatnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai destinasi event-event Internasional, seperti Moto GP yang rencananya akan diadakan pada tahun 2017. Kemudian prestasi lainnya, rating Promosi Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia pada event Konferensi Asia-Afrika, dari tidak bisa dinilai menjadi rangking 47. Lalu suksesnya dua film pendek promosi pariwisata Indonesia produksi Kementerian Pariwisata RI juga mendukung kemajuan wisata karena menjadi juara dalam International Tourism Film Festival ke 11 yang bertajuk “On the East Coast” di Bulgaria untuk kategori History and Culture serta Sport and Adventure.

Pencapaian lainnya di pilar international openness, Indonesia mendapatkan penilaian yang sangat bagus. Rangkingnya meningkat dari ranking 114 naik menjadi 55. Arief Yahya juga mampu melakukan koordinasi lintas lembaga sehingga kebijakan bebas visa kunjungan bisa ditingkatkan dari 15 negara menjadi 45 negara. Sang ahli marketing ini jualah yang memperjuangkan agar ada kemudahan kunjungan kapal pesiar asing dari sistem manual ke online. Hal ini sudah berjalan di Nongsa Point Marina di Batam, dari 3 minggu mengurus masuk kapal pesiar menjadi hanya 3 hari.

Peraih Mens Obsession Award 2015 ini juga berhasil menciptakan penerapan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) investasi bidang pariwisata seperti di Mandalika dan Tanjung Lesung yang sudah tertunda 20 tahun. Keberhasilan ini berdampak bagi para investor menjadi tertarik berinvestasi di Indonesia sehingga keterbukaan terhadap investasi bidang pariwisata kini mencapai 100% untuk wilayah timur. Sektor perpajakan pun tak luput jadi ‘sasaran’ Arief untuk didorong dalam menunjang kepariwisataa yaitu dengan penerapan insentif pajak penghasilan usaha kawasan pariwisata, dimana insentif untuk tax (tax holiday) sebesar 5% selama 6 tahun.

Di sektor sarana dan prasarana transportasi, Menpar Arief Yahya juga tak kalah seriusnya mendukung komitmen Pemerintah dalam pembangunan bandara di destinasi utama pariwisata. Perpanjangan runway minimal 2500 meter dan pembangunan 19 bandara baru terus dilakukan. Sehingga terjadi peningkatan jumlah airlines yang beroperasi serta jumlah rute yang diterbangi. Bahkan kini, Garuda Indonesia rute Beijing – Denpasar pulang – pergi 3 kali seminggu yang dimulai pada 13 Januari 2015. Sementara Fly Emirates rute Dubai – Denpasar setiap hari mulai 3 Juni 2015. Diikuti oleh Sriwijaya Air rute Beijing – Jakarta (Chartered Flight). Hal ini berimbas pada meningkatnya kepercayaan dunia terhadap operator penerbangan nasional khususnya Garuda Indonesia Airlines sehingga wisman merasa aman dan nyaman untuk berkunjung ke Indonesia.

Prestasi lainnya yang tak kalah membanggakan, bahwa belum lama ini berdasarkan laporan World Economic Forum (Travel and Tourism Competitiveness Report) yang dilansir pada Mei 2015 lalu, posisi pariwisata Indonesia kini berada di ranking 11 secara regional dan ranking 50 besar dunia, dari semula ranking 70. Namun begitu, Arief Yahya tidak lantas berpuas diri, Ia memiliki target lebih tinggi lagi yakni menaikkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global dan menduduki ranking 30 dunia pada tahun 2019.

Sederet prestasi dan pencapaian yang telah diraih Arief Yahya selama menjabat sebagai Menteri Pariwisata tidak terlepas dari kemampuannya dalam manajerial. Arief Yahya memiliki strategi manajerial pamungkas yang mengantar seorang pemimpin menuju kesuksesannya yaitu Great Spirit Grand Strategy, dengan melakukan penyeimbangan antara spirit dan strategy. Konsep Great Spirit Grand Strategy tersebut terdiri dari tiga pilar penopang sukses yang berkesinambungan yakni, filosofi perusahaan, seni kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Keseimbangan tersebut dapat terwujud dari para pemimpin yang memiliki kemampuan olah ruh, olah rasa, olah rasio, olah raga (4R), dan olah karsa yang solid dan seimbang.
Pria yang telah mengkoleksi lebih dari 30 penghargaan nasional ini, terus semangat dan tanpa lelah menularkan Great Spirit Grand Strategy di seluruh penjuru Kementerian Pariwisata. Hal tersebut ia lakukan agar Kemenpar dapat mencapai target utama pembangunan pariwisata. Pertama, kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 9 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada 2019. Kedua, devisa meningkat dari Rp 140 triliun pada 2014 menjadi Rp 280 triliun pada 2019. Ketiga, kontribusi terhadap kesempatan kerja meningkat dari 11 juta pada 2014 menjadi 13 juta pada 2019. Keempat, indeks daya saing pariwisata meningkat dari peringkat 70 pada 2014 menjadi 30 pada 2019. Kelima, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara meningkat dari 9,4 juta pada 2014 menjadi 20 juta pada 2019. Keenam, jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 250 juta pada 2014 menjadi 275 juta pada 2019.
Target dan strategi telah ditetapkan, perbaikan birokrasi terus digalakkan dan pengembangan SDM akan berjalan berkelanjutan. Berbagai rintangan dan tantangan telah menanti, namun Arief Yahya berteguh hati dan siap menghadapi. Semangat itu tercermin dalam sebuah tekadnya, “Misi terbesar saya memimpin adalah membentuk sebuah institusi yang berkarakter dan memiliki daya saing global, berprinsip pada Lead people by Heart & Manage business by Head dengan menjadikan The Corporate Culture sebagai pilar pembentuk karakter”. (*)