RRI Hadirkan Studio Konvergensi Media Dan DAB

Agar tidak tergilas jaman, Radio Republik Indonesia hadirkan dan resmikan Studio Konvergensi Media dan Optimalisasi Kanal Digital Audio Broadcasting (DAB)+ kemarin.

Dunia digital ini, dirambah RRI lewat transmisi internet memberikan peluang baru karena menciptakan perubahan radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi, dan pemrosesan seluruh bentuk informasi seperti visual, audio, dan teks.

Empat kanal musik utama akan tayang 24 jam lewat studio baru ini, seperti musik Indonesia, keroncong, jazz, dan klasik.

Pembuatan studio itu terealisasikan setelah pencetusan ide pada hari ulang tahun ke-70 RRI.

“Penggunaan teknologi DAB+ bertujuan untuk membuat berbagai kanal bisa dilihat dalam satu frekuensi saja. Pihak LPP RRI menunggu pemerintah terkait penyusunan undang-undang transmisi digital,” kata Kepala LPP RRI Jakarta Herman Zuhdi.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Rosarita Niken Widiastuti berharap, RRI menjadi studio hidup untuk mengawal perjalanan RI ke depan. “Selain itu, masyarakat dari kelas menengah ke atas maupun ke bawah harus terlayani betul. Aplikasi mobile phone akan memudahkan masyarakat yang aktif,” kata Niken.

Pemanfaatan teknologi

Berdasarkan publikasi ilmiah di Buletin Pos dan Telekomunikasi oleh Kasmad Ariansyah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kominfo tahun 2014, sebanyak 18 negara sudah mengimplementasikan DAB dan DAB+ terlebih dahulu. Beberapa negara tersebut antara lain Australia dan Malaysia.

Sebesar 221.000 orang, atau 13 persen dari total 1,7 juta penduduk Australia yang mendengarkan radio digital pada akhir kuartal ketiga tahun 2013, telah mendengarkan radio melalui jaringan DAB+. Mereka tersebar di sejumlah kota, seperti Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth. Sementara itu, Malaysia melakukan uji coba DAB+ pada akhir 2009 di Kuala Lumpur.(*)