Tumplek Manusia Di Festival Perbatasan Indonesia-Malaysia

Festival  pentas musik yang digelar Kementrian Pariwisata di perbatasan Indonesia dengan Malaysia yaitu Aruk Sambas Kalimantan Barat tumplek dihadiri ribuan manusia pada Sabtu (27/2).

Sekitar 5.000 orang memadati pentas Festival Wonderful Indonesia mereka berbaur, baik yang ber-KTP Indonsia maupun yang beridentitas Negeri Seberang Malaysia.

Kendati pada hari itu hujan deras yang mengguyur kawasan perbatasan Aruk, Kabupaten Sambas, Kalbar sejak pagi, tidak menyurutkan masyarakat, untuk menyaksikan Festival Wonderful Indonesia. Bahkan, tidak sedikit yang datang dari wilayah Malaysia. Puluhan mobil berplat Malaysia ikut berjajar rapih di sekitar terminal Sajingan Besar.

“Info Festival Wonderful Indonesia tiap jam diputar di Cats FM Kuching. Masyarakat kami (Malaysia, red) banyak yang penasaran. Kebetulan masyarakat kami sangat suka dengan dangdut,” tutur Nazari bin Bujang, District Officer Sematan, dengan logat Melayu yang kental. Kencangnya suara gendang betul-betul mengagetkan Kuching, Malaysia.

Rasa penasaran masyarakat Malaysia tadi akhirnya mengalahkan cuaca yang tidak bersahabat. Meski hingga pukul 12.00, hujan tak juga reda, antrian penonton terus bertambah. “Ah.. Cuma hujan air tak apalah,” kata mereka tak peduli basah kuyup baju dan celana.

IMG-20160229-WA0066

Berharap Ada Lagi Festival Pentas Musik

Sebagian area penonton yang becek tak jadi halangan bagi penonton untuk bergoyang bersama teman dan pasangan yang datang bersama mereka. Nuansanya mirip sebuah reuni. Maklum, masyarakat Aruk punya banyak kedekatan emosional dengan warga Biawak dan Kuching, Malaysia. Banyak yang punya hubungan darah dengan warga di negeri jiran Malaysia.

“Acaranya bagus. Khusus hari ini, border dibuka sampai pukul 18.00 waktu Malaysia. Mudah-mudahan di masa datang ada lagi festival seperti ini,” papar Nazari.

Di mana-mana, dendangan musik dangdut memang selalu menyihir. Apalagi di daerah perbatasan yang jarang sekali disentuh dengan hiburan rakyat seperti itu. Pantas saja, suasana heboh tak terhindarkan.

Suasana perbatasan yang titik koordinatnya sekitar 300 kilometer dari pusat Kota Pontianak itu betul-betul heboh. Pentas musik yang diprakarsai Kemenpar itu menghibur semua pendatang dan warga setempat. Para pedagang dan usaha kecil yang ada di Aruk juga ikut mengambil peran, mendapatkan manfaat terbesar.

“Kemenpar akan terus menggelar kegiatan di banyak titik di perbatasan, bukan hanya di Aruk, tapi juga di lokasi strategis lainnya,” ungkap Menpar Arief Yahya yang terus memantau dari Jakarta.

Jika dari jumlah wisman dari Malaysia, di acara “man made” itu besar, kata Arief Yahya, itu sudah diperkirakan sebelumnya. Bukan hanya soal jumlah wisman yang berkunjung, lebih jauh dari itu event-event ini bisa men-drive ekonomi masyarakat. “Ketika banyak orang datang, demand akan tercipta, dan saya tidak khawatir dengan supply-nya. Masyarakat pasti menemukan kreasinya sendiri untuk mengambil manfaat commercial value-nya,” jelas Arief.

IMG-20160229-WA0064

Great Batam, yang meliputi Batam dan Bintan pun didorong lebih banyak event dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pagelaran musik yang dibungkus dengan acara Festival cukup memikat negara tetangga, Singapore dan Malaysia untuk hadir lebih banyak. Apalagi begitu banyak artis dan musisi Indonesia yang terkenal di dua negara tetangga itu. Ada Afgan, Rossa, Raisa, Wali, Noah, dan lainnya sangat tersohor di Negeri Seberang.

Bukan hanya musik yang bisa menarik banyak orang. Olahraga seperti marathon, golf, 10-K dan lainnya juga bisa menjadi cara untuk menghadirkan lebih banyak wisman di negara tetangga. “Kesamaan budaya, keselarasan selera, antardua negara yang berdampingan, juga memperkuat sesama orang Melayu,” tandasnya.

Asumsikan, musik dan festival itu sebagai pendobrak. Selebihnya, ketika sudah sering berkunjung ke Indonesia, mereka bisa lebih banyak mengeksplorasi objek wisata lain di dekat perbatasan. “Inilah yang dimaksud dengan Border Tourism,” kata dia.(*)