Workshop dan Kick-off Pengembangan Destinasi Wisata Ziarah

Pengembangan destinasi wisata ziarah akan menjadi perhatian serius dalam kaitannya dengan upaya Indonesia menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat. Untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya Wisata Ziarah, Kementerian Pariwisata menyelenggarakan kegiatan Workshop dan Kick-Off Meeting Pengembangan Destinasi Wisata Ziarah di Indonesia.

“Diperlukan pengembangan destinasi wisata ziarah secara lebih serius, termasuk pengelolaan destinasi, pengemasan produk wisata, serta promosi dan pemasaran pada segmen wisata minat khusus” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya pada pembukaan Workshop dan Kick-Off Meeting Pengembangan Destinasi Wisata Ziarah di Indonesia yang berlangsung di Hotel Sofyan Menteng,belum lama ini.

Pada tahun terakhir ini, telah terjadi pergeseran tren kepariwisataan, yaitu dari motivasi “bersenang-senang” menjadi “mencari pengalaman baru”. Paradigma pariwisata pun bergeser dari “sun, sand and sea” menjadi “serenity, sustainability and spirituality”. Berdasarkan penelitian bahwa dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini terjadi kenaikan hingga 165% atas perjalanan wisata yang didasarkan pada keyakinan diri (faith based). UNWTO (2010) memperkirakan sekitar 330 juta wisatawan global atau kurang lebih 30% dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan ke situs-situs religius penting di seluruh dunia, baik yang didasarkan pada motif spiritual atau pun motif kognitif.

Menurut Menpar menjadikan Situs Walisongo sebagai jalur rute ziarah (pilgrimage route) terbesar dan terpanjang melebihi Camino de Santiago yang saat ini menjadi kebanggaan Eropa diperlukan langkah-langkah strategis dan peran serta para pemangku kepentingan.

Pertemuan ini bertujuan untuk mendorong kontribusi positif dari rute ziarah dan spiritual bagi pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, serta kontribusi pariwisata untuk pemahaman budaya dan pelestarian warisan alam dan budaya yang terkait dengan jalur kuno (ancient trails) dan tempat-tempat sakral (sacred places).
Camino de Santiago yang mempunyai 7 rute utama yang merangkai sekitar 1.800 bangun bersejarah di Eropa ini hanya mampu menarik peziarah sekitar 100 ribu orang per tahunnya. Angka tersebut sangatlah jauh dibandingkan dengan potensi yang ada di Situs Walisongo, karena sebagian besar dari destinasi wisata ziarah di Indonesia juga merupakan situs warisan budaya (cultural heritage sites) yang dibangun dari abad VII Masehi, bahkan beberapa di antaranya merupakan situs-situs megalitikum.
Bisa dikatakan, Indonesia mempunyai potensi pariwisata berbasis religi yang sangat lengkap dan diakui dunia. Borobudur dikenal sebagai monumen Buddhisme yang telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia atau Goa Maria Sendangsono pernah mendapatkan penghargaan The Aga Khan Award.

Komposisi populasi berdasarkan pemeluk agama selain membentuk segmen wisatawan berbasis religi, juga akan membentuk karakteristik destinasi wisata ziarah (pilgrimage tourism) berbasis kewilayahan. Indonesia sendiri mempunyai karakterisktik yang sangat lengkap sebagai destinasi wisata ziarah: dari Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Buddha, Khonghucu dan bahkan beragam kepercayaan lokal yang diperkirakan mencapai jumlah 245 kepercayaan.

Target Kepariwisataan Indonesia Tahun 2019 adalah sebesar 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta wisatawan nusantara yang diharapkan secara keseluruhan mampu menciptakan lapangan kerja kepariwisatan bagi 13 juta orang dan menghasilkan devisa hingga 240 triliun. Salah satu daya tarik wisata ziarah yang potensial untuk dikembangkan secara serius adalah Situs Walisongo yang berada di 8 (delapan) kabupaten/kota pada provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Selain sebagai warisan budaya berbasis Islam, situs-situs tersebut juga merepresentasikan keberagaman budaya dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Selain berziarah ke makam wali-wali, daya tarik yang lain adalah perayaan haul atau peringatan keagamaan untuk mengenang jasa orang-orang yang dianggap penting dalam konteks agama dan bangsa. Perayaan haul Sunan Ampel di Surabaya –sebagai contoh kasus– mampu menarik pengunjung hingga 10 ribu orang per harinya.

Data yang diolah dari berbagai sumber memunculkan gambaran umum bahwa jumlah peziarah di 9 (sembilan) makam Walisongo pada tahun 2014 mencapai 12,2 juta orang dan dengan pengeluaran wisatawan hingga mencapai Rp 300 ribu per kunjungan atau total pengeluaran dalam setahun sebesar Rp 3,6 triliun. Diperkirakan pada tahun 2014 terdapat 3.000 orang wisatawan mancanegara yang berkunjung dengan pengeluaran total sekitar 450 ribu USD atau 150 USD per harinya.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan kunjungan wisatawan di Situs Walisongo pada tahun 2019 mampu mencapai 18 juta orang wisatawan nusantara atau sekitar 15% dari target wisatawan nusantara pada tahun 2019 dengan pengeluaran wisatawan per kunjungan rata-rata Rp 400 ribu atau senilai Rp 7,2 triliun dalam setahunnya. Strategi promosi dan pemasaran pariwisata mancanegara yang tepat diharapkan menjadikan Situs Walisongo sebagai pilihan destinasi wisata minat khusus berbasis religi yang mampu menarik 10.000 wisatawan mancanegara per tahunnya dengan pengeluaran total senilai 1,5 juta USD atau rata-rata 150 USD per harinya. (*)