Kabar gembira buat Anda yang selama pandemi ini merasa terbebani waktu, biaya, tenaga bahkan mental karena harus dicolok hidungnya (antigen) atau tenggorokannya (PCR) ataupun tes lainnya setiap kali ingin berwisata ke daerah lain. Beban itu akan sirna.

Kenapa jadi beban? Karena kalau ternyata hasilnya positif, ya sudah pasti batal atau ditunda berwisatanya. Bila negatif, tetap saja terbebani karena kalau mau pulang dari daerah itu harus melakukan hal yang sama.

Keharusan tes antigen, PCR atau lainnya selama ini pun dinilai beberapa pihak bagai pisau bermata dua. Di satu sisi baik, karena kabarnya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tapi di sisi lain sebaliknya (buruk), karena membuat orang terbebani jika ingin bepergian termasuk untuk tujuan berwisata.

Lantaran terbebani, jelas membuat minat orang bepergian menurun drastis ditambah lagi kondisi ekonomi melemah akibat pandemi hingga ujungnya hampir semua sub sektor terkait pariwisata, antara lain aneka moda transportasi, akomodasi (berbagai jenis penginapan), resto/rumah makan/sentra kuliner/sentra oleh-oleh, dan penyedia jasa wisata (travel agent/indie travel, pemandu wisata) terdampak, bahkan tak sedikit yang gulung tikar.

Alhamdulillah, pada Senin (7/3/2022) ada kabar amat menyenangkan hati, lantaran Anda bisa terbebas dari beban itu lantaran setiap pelaku perjalanan domestik dengan moda transportasi darat, laut, maupun udara tidak perlu menunjukkan bukti tes antigen atau PCR negatif untuk melakukan perjalanan darat, laut maupun udara dengan sarat tertentu. Artinya jika kebijakan baru itu benar-benar berlaku, Anda tak perlu lagi dicolok hidung ataupun tenggorokannya setiap kali ingin berangkat berwisata dan kembali dari destinasi wisata.

Lalu bagaimana caranya agar Anda bisa memanfaatkan kabar gembira tersebut untuk berwisata? Ayo Ikuti 6 tips dari saya berikut ini.

Pertama, supaya Anda bisa memanfaatkan kebijakan baru yang menggembirakan itu untuk tujuan berwisata, Anda harus sudah divaksinasi lengkap. Artinya mau tidak mau, suka atau tidak suka, ngeri-ngeri berani ataupun sebaliknya, Anda harus divaksin, bahkan kudu dosis lengkap.

Ini sesuai dengan keterangan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Wakil Ketua Komite Penanganan pandemi dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi pers daring terkait hasil ratas PPKM di Jakarta, Senin (7/3/2022) yang mengatakan kebijakan itu berlaku bagi mereka yang sudah divaksinasi lengkap.

“Pelaku perjalanan domestik dengan transportasi udara laut maupun darat yang sudah melakukan vaksinasi kedua dan lengkap, sudah tidak perlu menunjukkan bukti tes antigen maupun PCR negatif,” tegasnya.

Luhut yang juga Koordinator PPKM Jawa Bali mengatakan hal itu diputuskan pemerintah dalam rangka transisi menuju aktivitas normal.

Kedua, sekalipun sudah ada kabar cerah tersebut, tak ada salahnya Anda mengecek terlebih dulu apakah sudah ada surat edaran resmi yang memuat kebijakan baru secara detail yang akan diterbitkan oleh kementerian/lembaga terkait, misalnya dari Kementerian Perhubungan.

Tujuannya untuk memastikan apakah sarat tak perlu menunjukkan bukti tes antigen maupun PCR negatif benar-benar sudah berlaku dan diterapkan di lapangan, baik itu di bandara, pelabuhan, stasiun ataupun terminal, dan lainnya.

Ketiga, setelah itu (sudah divaksin lengkap), sebaiknya Anda memastikan destinasi atau objek wisata dambaan yang ingin disambangi dan dijelajahi.

Apakah lokasinya masih di dalam satu provinsi atau sudah diluar provinsi bahkan luar pulau namun tetap berada di dalam negeri sendiri. Semua itu harus disesuaikan dengan minat/tujuan, anggaran, dan ketersediaan waktu Anda.

Bila sudah calon destinasi wisata yang bakal dituju, tak kalah penting menentukan moda transportasi apa yang akan Anda gunakan, apakah hanya pesawat, kapal Pelni, atau cuma kereta/bus atau kombinasi dua moda atau bahkan semuanya.

Keempat, sebaiknya menentukan jenis wisata yang Anda sukai/minati di destinasi pilihan tersebut. Apakah wisata alam bahari, sejarah, budaya, buatan, religi, kuliner, belanja, event, wisata olahraga, ekowisata dan lainnya. Masing-masing jenis wisata itu pun harus diselaraskan dengan tiga faktor di atas yaitu minat/tujuan, anggaran, dan ketersediaan waktu Anda.

Kelima, memastikan pula cara berwisata yang Anda inginkan. Apakah ingin bergaya turis koper (kelas atas), ransel (backpacker-an), sendirian alias solo traveling, ataupun secara small group dengan keluarga/kerabat atau teman sepekerjaan, sehobi ataupun sekomunitas.

Apakah wisatanya bernuansa rekreasi yang ringan dan santai atau justru memilih jenis wisata bernuansa petualangan yang membutuhkan keahlian khusus, persiapan yang cukup, dan keberanian lebih seperti pendakian gunung yang sulit, diving, rock climbing, caving, surfing, paragliding, dan lainnya.

Apakah menggunakan jasa wisata seperti membeli paket wisata dari travel agent ataupun open trip dari indie travel, atau memilih melakukan secara mandiri alias membuat dan menentukan sendiri objek wisata yang akan dikunjungi dan jenis kegiatan wisata yang akan dilakukan.

*Berwisata Bermanfaat*
Terakhir atau keenam, mumpung sudah tak terbebani lagi karena tak perlu hidung/tenggorokan dicolok, sebagai tanda syukur tak ada ruginya kalau Anda mulai menerapkan berwisata yang punya nilai manfaat. Maksudnya bukan hanya semata menyenangkan diri sendiri dengan atmosfer dan pengalaman baru, pun sekaligus bisa bermanfaat buat masyarakat setempat ataupun buat lingkungan destinasi wisata yang dituju bahkan berguna untuk bekal ‘investasi’ kehidupan Anda kelak.

Contohnya berwisata sekaligus berdonasi/beramal di rumah ibadah yang didatangi. Misalkan kalau Anda muslim dan akan menunaikan ibadah shalat di surau ataupun masjid yang ada di perjalanan ataupun di lokasi tujuan wisata, bisa sekaligus beramal di kota amal, berinfak untuk pembangunan surau/masjid atau untuk keperluan perlengkapan shalat/mengaji, dan lainnya.

Bisa juga menyumbang dana ataupun perlengkapan belajar di rumah yatim piatu, madrasah/SD setempat.

Contoh lainnya selalu menerapkan wisata yang peduli alias ramah lingkungan atau pro konservasi di sepanjang perjalanan dan tentunya di lokasi tujuan.

Misalnya kalau Anda ke objek wisata alam seperti air terjun, danau, sungai, pantai, laut, pulau, lembah/ngarai, hutan pinus, bumper, puncak bukit/gunung dan lainnya, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan aksi coret-coret (vandalisme).

Kalau misalkan melakukan pendakian gunung, minimal membawa turun sisa sampah logistik Anda sendiri apapun jenis dan ukuran sampahnya, terlebih sampah plastik.

Bila Anda sekaligus ingin mendulang pahala buat ‘bekal’ kehidupan nanti, apapun jenis wisata yang Anda pilih harus dengan niat baik, Lillahi Ta’ala serta senantiasa dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Misalnya, kalau Anda memilih mendaki gunung, selain beramal seperti tersebut di atas dan tetap menunaikan shalat wajib 5 waktu, bisa juga sambil bershalawat ataupun ber-dzikir setiap kali kaki melewati trek menanjak maupun menurun.

Mulai hari ini, yuk ucapkan: “Selamat tinggal hidung/tenggorokan dicolok. Alhamdulillah”.

Semoga kebijakan baru ini benar-benar diindahkan di lapangan, bukan cuma terucap di bibir ataupun tertera di atas kertas.

Semoga pula kebijakan baru ini dapat segera menyulut semangat WNI untuk berwisata yang bernilai manfaat terutama di dalam negerinya sendiri dari Aceh sampai Papua, serta memompa kreativitas para pelaku usaha dan pengelola objek wisata sehingga dapat membangkitkan dan memulihkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan penampilan dan wajah yang baru, sekalipun secara perlahan. Aamiin Allahumma Aamiin.

*Penulis: Adji TravelPlus* @adjitropis (jurnalis/blogger pariwisata senior & pegiat medsos)

*Captions*:
1. Wisatawan nusantara di salah satu bandara di Kalimantan. (Foto: @adjitropis)
2. Berwisata alam bernuansa petualangan yang punya nilai manfaat.(Foto: @adjitropis)